WANITA

blog ini berisi semua hal tentang wanita..,...

Bismillah…
Aq disini, melihat dan mendengarkan suara mereka,
mereka yang dahulu juga ada di masa jahiliyah itu,
masa kegelapan, -tentunya dengan masa kegelapan yang berbeda. Setiap orang punya masalah dan masa lalu..
tetapi, masa gelap itu tetaplah gelap…
tak ada cahaya, sepi, pengap, pekat, jenuh..
dalam saat gelap inilah butuh cahaya,
dan selalu merindukan cahaya,
secercah mentari pagi,
sebuah lilin, apapun itu…
ahhh…fitrah manusia memang selalu pada kebaikan seperti yang Allah katakan.
Setiap orang punya masalah dan masa lalu..
Namun sebagaimana kata umar r.a, “barang siapa yang Berjaya pada masa jahiliyahnya, maka ia akan Berjaya pula pada masa berimannya.”
Percayalah, dibalik itu, sebenarnya ada qolbu yang bersih..
Mereka bukan seorang bejad mutlak dan tidak dilahirkan sebagai orang yang bejad,
Tapi mereka hanya saja belum mendapat hidayah, mereka belum menjemput hidayah itu.
Siapa yang berani mengatakan bahwa hati kita lebih bersih daripada mereka?
Setiap orang punya masalah dan masa lalu,
Mereka bukan untuk dijauihi,
Mereka disini untuk dibimbing…
Mereka disini untuk dirangkul..
Mereka disini untuk kita ajak dalam indahnya islam, indahnya ukhuwah…
Wallahu’alam…
Semoga qta bsa mengambil pelajaran..

Pernahkah Anda melihat, seekor induk ayam menerjang siapapun yang berusaha mendekati anak-anaknya ? Atau seekor induk kucing yang lalu menggendong anaknya berpindah tempat, ketika merasa anak-anaknya kurang aman di suatu tempat? Lalu, pernahkah Anda sendiri, seorang ibu, merasakan betapa berat hati Anda meninggalkan anak-anak Anda untuk pergi ke kantor, meninggalkan anak-anak Anda dalam pengasuhan orang lain ?

Semua itu hanya beberapa contoh bentuk insting atau naluri yang telah Allah karuniakan pada makhluk-Nya. Naluri melindungi diri, naluri mempertahankan hidup, lalu seperti contoh yang sudah saya sebutkan, naluri melindungi dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan Allah tidaklah pernah menciptakan segala sesuatu tanpa maksud dan tujuan, begitu juga dengan naluri. Lalu ketika hati kita meronta karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan naluri kita, apakah kita pantas mengabaikannya ?

Itulah dilema yang saya alami , seorang ibu bekerja, dengan satu anak laki-laki usia 6,5 tahun. Saya mengabaikan naluri saya, dalam kurun waktu yang sama dengan usia anak saya saat ini. Diawali ketika saya harus meninggalkannya di tangan seorang pengasuh, ketika harus kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Sedih ? Pasti. Merasa bersalah ? Sangat. Tapi saya berhasil mengabaikannya.

Prestasi luar biasa bagi saya, tapi mungkin cuma hal sepele bagi orang lain, wajar kata sebagian orang, ketika harus meninggalkan anak bekerja, karena tuntutan jaman sekarang memang begitu. Lalu saya kembali harus menelan ludah yang terasa pahit, ketika saat anak saya pertama kali bisa duduk, bisa merangkak, bisa berdiri, bisa berjalan, dan bisa bicara saya tidak menyaksikannya sendiri, ibu pengasuhlah yang menceritakan pada saya.

Dan tak terhitung berapa kali saya diam-diam menangis, ketika anak lebih nyaman bermain dengan pengasuhnya, ketika dia sakit tapi ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan, atau ketika saya harus menjalani tugas diluar kota.

Setiap pertentangan batin berhasil saya lewati, paling tidak sampai saat ini, namun saya merasa pertahanan saya tidak sekuat dulu. Perkiraan bahwa semakin bertambah usia anak, dia akan semakin mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap ibunya memang tidak salah. Anak saya tumbuh jadi anak mandiri, cukup cerdas dan dewasa diantara anak seusianya. Tapi apakah semakin dewasa ia semakin tidak membutuhkan ibunya ? Tegas saya jawab, tidak.

Tapi jenis kebutuhannya yang berbeda dan semakin berkembang. Kalau semasa bayi, dia membutuhkan ASI dari ibunya. Lalu ketika batita, dia membutuhkan tangan yang membimbing ketika berjalan, dia membutuhkan seseorang yang mengajarkan kata-kata baru, dia membutuhkan seseorang yang akan setia menjawab ketika dia bertanya, “Apa ini?” atau “Apa itu?”. Di usia pra sekolah, semakin kompleks pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Akankan seorang pengasuh bisa menjawab dengan tepat pertanyaan, “Darimana asal adik bayi?” atau “Kenapa langit berwarna biru?”.

Kemudian ketika memasuki usia sekolah, dia butuh seseorang yang akan menguatkan dan membuatnya merasa sekolah adalah tempat yang aman, dan ada seseorang yang menunggu diluar sepulang sekolah. Di usia SD, dia ingin ikut bermacam les seperti teman-temannya, wushu, drum, robotika… dia membutuhkan seseorang yang mengantarnya, dia membutuhkan seseorang yang menemani dia mengaji, dia membutuhkan seseorang yang mengingatkan keutamaan sholat dan ibadah lain, dia membutuhkan teman yang menemaninya belajar tanpa terkantuk-kantuk. Ketika remaja, dia membutuhkan seseorang untuk menumpahkan kesedihan dan keceriaannya di sekolah.

Bahkan ketika sudah mapan, menikah dan mempunyai anak pun, seorang anak tetap membutuhkan ibunya, meski sekedar untuk meminta nasihat dan mencurahkan keluh kesahnya.

Selama ini, saya merasa sudah memenuhi kebutuhan anak saya, meski tidak optimal. Seorang ibu pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya, bagaimanapun kondisinya. Tapi ketika anak saya membutuhkan banyak hal, sedangkan saya tidak bisa memenuhi kebutuhan itu (kelelahan, banyak pekerjaan, tidak ada waktu), akhirnya saya yang akan meminta pengertiannya, selalu begitu. Dan dia, laki-laki kecil itu akan selalu berusaha bisa mengerti saya, ibunya. Adilkah bila seorang anak yang seharusnya dimengerti justru dikondisikan untuk berusaha mengerti ?

Sebagai perempuan, sudah jelas kewajiban dan amanah saya yang utama, menjadi ibu dan istri. Dan amanah itu, pasti akan Allah mintai pertanggungjawaban kelak. Bagaimana kau mendidik anakmu? Bagaimana kau melayani suamimu ? Dengan bekerja, saya membebankan satu amanah lagi di pundak saya, dan pasti harus saya pertanggungjawabkan pula. Sering saya berfikir, berani-beraninya saya mengambil satu amanah lagi, sementara satu amanah utama saja belum tertunaikan dengan sempurna ? Astaghfirullah…

Rasanya sudah berkali-kali saya menyimpulkan, solusi masalah saya adalah saya harus berhenti bekerja atau mencari alternative pekerjaan lain yang bisa saya kerjakan dari rumah. Suami saya pun mendukung sepenuhnya, bahkan beliau menyatakan lebih tenang bekerja bila saya sendiri yang mengasuh anak di rumah. Tapi saya tidak pernah punya keberanian untuk mewujudkannya, terlalu banyak hal yang saya takutkan. Bagaimana kalau saya bosan, bagaimana mengkondisikan diri yang terbiasa punya uang sendiri lalu harus tergantung pada suami, bagaimana bila terjadi sesuatu dengan suami, bagaimana mencukupi kebutuhan hanya dengan satu gaji, bagaimana dengan keinginan naik haji ?

Begitulah, ketika beberapa kali keinginan berhenti bekerja menguat, yang biasanya diawali tuntutan-tuntutan anak saya, tak berapa lama keinginan itu pun memudar. Titik terang mulai terlihat beberapa minggu ini, saya semakin mantap untuk berhenti bekerja. Satu per satu pertanyaan dan ketakutan saya terjawab. Soal financial, alhamdulillah Allah memudahkan jalan rejeki kami sehingga kami punya rumah dan kendaraan yang layak, Allah telah menghajikan kami, Allah telah mencukupi semua kebutuhan material kami.

Saya berusaha tidak munafik, memang masih banyak sekali keinginan dan kebutuhan lain yang tidak akan habis kami kejar, semua orang pun pasti begitu. Setelah punya rumah pasti ingin punya rumah yang lebih besar, sudah punya mobil pasti ingin mobil yang lebih bagus, sudah berhaji pasti ingin berhaji lagi. Tapi apakah itu tujuan hidup saya ? Soal ketakutan bosan tanpa kegiatan di rumah, pasti bisa disiasati. Banyak kegiatan yang bisa saya ikuti, memperbanyak pengajian, kursus ketrampilan rumah tangga, LSM ?

Lalu bagaimana bila terjadi sesuatu dengan suami ? Masya Allah, saya sungguh malu pernah meragukan ini, bukankah semuanya telah diatur Allah ? Dan bukankah saya pun bisa tetap berusaha menghasilkan uang meskipun tinggal di rumah ? Kemudian perkataan kerabat yang pernah membuat saya kembali berpikir, bukankan kalau kamu bekerja, berarti kesempatan kamu untuk bersedekah lebih besar ? Pertanyaan itupun terjawab, bukankah sebaik-baik sedekah adalah sedekah untuk keluarga terdekat kita, anak-anak kita dan suami kita ?

Bukan berupa uang, tapi keikhlasan kita menyiapkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Ketika saya mencurahkan kegundahan saya pada seorang sahabat, beliau hanya menjawab dengan kalimat sederhana, “hidup kita semata-mata ibadah, ketika kamu dihadapkan pada dua pilihan yang sama berat, pilihlah yang akan membuat kualitas ibadahmu menjadi lebih baik”. Subhanallah, saya yakin berhenti bekerja adalah yang terbaik bagi saya dan keluarga saya saat ini.

Dan akhirnya satu hal yang semakin memantapkan saya, bagi saya anak adalah investasi akherat saya. Dialah (dan insya Allah adik-adiknya) yang saya harapkan menerangi alam kubur saya dan suami dengan doa-doa dan amalan sholihnya. Dan inilah kesempatan saya sekali seumur hidup, tidak akan terulang, untuk mendidiknya dengan baik sehingga kelak ia akan dewasa menjadi lelaki sholih yang selalu mengingat saya dan suami dalam setiap doanya.

Setelah melalui proses istikhoroh dan membersihkan niat karena Allah semata, saya pun memutuskan berhenti bekerja. Sungguh, keputusan ini bukan keputusan ringan, tapi merupakan keputusan terberat dalam hidup saya. Dan ternyata setelah memutuskan pun, Allah masih menguji kesungguhan saya. Permohonan resign saya belum terkabul dari perusahaan tempat saya bekerja. Tapi saya yakin dan selalu berusaha berbaik sangka, ketika saya benar-benar ikhlas dan berserah pada Allah, pasti Allah akan memudahkan urusan saya. Dan bukankan ketika kita mendapatkan sesuatu melalui proses yang berat, pasti kelak kita akan lebih mensyukurinya ?


**Apa yang saya rasakan mungkin berbeda dengan apa yang dirasakan ibu-ibu lain. Banyak ibu yang bekerja tapi tetap menikmati perannya sebagai ibu maupun sebagai pekerja dan bisa menjalankan kedua amanah itu dengan sama baiknya, salut dan penghargaan saya setinggi-tingginya untuk ibu-ibu yang berdedikasi seperti ini. Ingin saya menjalani seperti itu, tapi ada daya saya merasa tidak cukup mempunyai kekuatan sebesar itu. Hidup adalah pilihan, dan ini pilihan yang saya tempuh. Selalu bersyukur, bersabar, dan menyadari konsekuensi setiap pilihan adalah kunci untuk berbahagia dengan apapun pilihan kita, insya Allah.

Wahai wanita cantik,
Engkau yang diciptakan dengan sangat sempurna oleh Rabbmu..
Indah dengan segala kelebihanmu yang ada...

Wahai wanita cantik,
Sering kali aku melihatmu berjalan dengan baju yang sangat sederhana,
Bahan yang sederhana, dan ukuran yang sangat sangat sederhana,
Hingga bagian auratmu yang harusnya tak tampak menjadi tampak..

Wahai wanita cantik,
Cukup sering aku melihat engkau jalan di depan para lelaki denga pakaian sexy-mu,
Dan para lelaki itu menatapmu dengan sangat lekat dari ujung kakimu sampai ujung rambutmu,
Mengikuti langkahmu hingga hilang dari pandangan mereka, pandangan yg menjijikkan...

Wahai wanita cantik,
Suaramu sungguh merdu,
Mendayu-dayu layaknya putri duyung yang sedang bernyanyi,
Bening sebening sumber mata air yang mengalir...

Wahai wanita cantik...
Ketahuilah... engkau begitu berharga... terlalu berharga...
Engkau bagai intan berlian yang terpajang pada sebuah kotak kaca indah berkunci dan terbungkus rapi..
Engkau bukan emas campuran murahan yang terpajang di etalase depan toko dan dengan seenaknya sang pembeli dapat merabamu, memegang tubuhmu dan memakaimu hanya untuk mencoba, lalu sang pembeli pergi, tak jadi membelimu dan mengembalikanmu di tempat yang sama!!
Bukan, engakau bukan itu wahai wanita cantik!!
Engkau intan berlian yang terpajang dalam kotak kaca indah berkunci dan terbungkus rapi.. orang yang menginginkanmu tidak berhak merabamu, memegangmu tubuhmu bahkan mencoba memakainya!
Tidak, mereka terlalu kotor untuk itu... mereka harus terlebih dahulu membelimu dengan harga yang sangat mahal, setelah itu mereka akan dapat memilikimu sepenuhnya.. Engkau yang utuh, yang belum pernah di ‘coba’ orang lain sebelumnya...

Wahai wanita cantik...
Engkau sungguh indah...
Bagai bunga mawar yang ketika orang ingin mengambilnya, terlebih dahulu mereka harus merasakan duri pertahanan diri yang kau punya,
Bagai bunga edelweis yang ketika menginginkanmu, terlebih dahulu mereka harus mendaki gunung ke arah ketinggian, menantang keberanian dan cuaca yang tak bersahabat,
Engkau bukan bunga bangkai, yang terlihat begitu indah dari kejauhan dengan warna yang menyala yang membuat para serangga tertarik dengan warna indahmu, namun ketika didekati, kau busuk.. ahh...baumu saja sudah membuat orang mual, apalagi memilikimu, merekapun enggan...

Wahai wanita cantik...
Jagalah amanah keindahan yang ada pada dirimu..
Berjalan saja kau terlihat menawan, belum lagi pembawaanmu yang sangat anggun, apalagi jika kau bersuara merayu, dan menampakkan apa yang tak seharusnya tampak..
Ahh..jagalah itu semua saudariku,
Tutuplah auratmu...agar tak ada yang berkeinginan lain terhadapmu... lelaki jalanan itu tak pantas menikmati tubuhmu dengan memandangimu dengan pandangan menjijikkan itu! mereka terlalu kotor untukmu!
Jagalah kehormatanmu saudariku... lelaki manapun yang belum halal bagimu tak pantas menyentuh tubuh dan kehormatanmu, pun atas nama cinta... sungguh, cinta dan nafsu itu berbeda..

Apakah kau khawatir tidak ada yang menyayangimu dan menjagamu atas nama cinta?
Apakah kau takut tidak akan ada yang menggombal dan merayumu atas nama cinta?
Wahai saudariku, bukan lelaki yang menginginkan tubuhmu yang sesungguhnya mencintaimu..
Lihatlah.. aku disini... aku sangat sedih melihat keadaanmu sekarang... aku sedih melihat para lelaki itu menzalimimu.. diri ini serasa tercabi-cabik...
Lihatlah di sekitarmu... tak hanya aku yang menginginkan ini semua yang terbaik untukmu.. lihatlah saudara-saudara semuslim mu...
Lihatlah kami.. sungguh engkau membuat air mata kami mengalir dan mencopot kantuk dari mata-mata kami... kami disini sedang memikirkan dan berbuat sesuatu untukmu.. agar tak pernah lagi engkau dizalimi siapapun...
Lihatlah kedua orang tuamu... hh,,apakah mereka menginginkanmu menjadi seperti ini? Sungguh engkau bakai mutiara bagi keluargamu... mutiara yang mereka jaga sejak kecilmu sampai engkau beranjak dewasa... apakah dengan ini engkau membalasnya?
Jika kau masih kurang dengan ini, maka lihatlah Allah Tuhanmu, Yang Menciptakanmu, Yang tiada henti-hentinya memberi nikmat padamu padahal tak jarang kau lupa denganNya... Ia masih memberimu nikmat udara, nikmat hidup, nikmat fisik dari tubuhmu yang indah itu.. Bayangkan, jika Ia tidak menyangimu, knapa Ia tak cabut saja nikmat wajahmu yang cantik dan tubuhmu yang indah?? Tapi tidak... meskipun engkau sering kali melupakanNya, nimkatNya tetap terus mengalir...

Wahai saudariku...
Biarlah hanya satu lelaki paling beruntung yang dapat menikmati dirimu seutuhnya, yakni suamimu kelak... ketika ikatan antara kalian halal dan berbuah ridhoNya... ketika suara mendayumu bukan lagi dosa tapi pahala... hanya dia yang pantas, saudariku...

Wahai saudariku,
Sungguh tidak ada alasan lain yang membuat aku melakukan ini selain cintaku yang begitu tinggi kepadamu...
Cintaku yang membuncah yang membuat aku memikirkanmu hingga kata-kata ini kugoreskan...
Cintaku yang menangis ketika melihat keadaanmu yang terzalimi oleh mode dan perbudakan hawa nafsu...
Cintaku yang akan tersenyum jika engkau berniat kembali ke jalanNya... Mari berjalam bersamaku, saudariku... temani aku dalam perjalanan indah yang tak singkat ini, menuju kepadaNya...

Wallahu'alam..



Allah swt swt telah memberikan wahyu kepada Nabi Musa as:
         "Wahai Musa, jika engkau ingin Aku lebih dekat kepadamu daripada ucapanmu kepada lisanmu, daripada keraguan hatimu kepada hatimu, daripada rohmu kepada badanmu,daripada cahaya penglihatanmu kepada matamu dan daripada pendengaranmukepada telingamu, maka perbanyakkanlahmembaca selawat ke atas Muhammad saw"
Allah swt swt telah berfirman:
Ertinya:  "Hendaklah tiap-tiap orang memerhatikan apa yang diusahakannya untuk  hari esok (hari Kiamat)"
                                                                                             (Q.S. al Hasyr: 18)
          Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya nafsu yang memerintahkan kejahatan itu lebih memusuhimu daripada Iblis. Syaitan hanyalah memperalat nafsu syahwat untuk menguasaimu. Janganlah engkau tertipu oleh nafsumu dengan segala angan-angan dan kepalsuan.
Watak nafsu adalah merasa aman, suka berlengah-lengah, bersuka-suka dan malas.Setiap rayuannya adalah batil dan palsu belaka. Jika engkau rela menuruti rayuannya, hancurlah engkau. Jika engkau lambat memperhitungkannya tentu akan tenggelam. Jika engkau lemah melawannya, lalu mengikuti keinginannya, tentulah dia akan melemparmu ke Neraka. Nafsu tidak akan pernah menuju kepada kebaikan. Ia sumber bencana. Dialah markas Iblis serta tempat segala keburukan yang hanya diketahui oleh Allah swt. Sesungguhnya Allah swt mengetahui segala apa yang engkau perbuat, baik mahupun buruk.
Jika seorang hamba mahu merenungi umurnya yang telah lanjut untuk mencari Akhirat, maka sesungguhnya ia menyucikan hati. Seperti disebutkan oleh Rasulullah saw:
          "Berfikir sesaat itu lebih baik daripada ibadah setahun."
Demikian dalam tafsir Abu Laits. Maka sayugianya bagi orang yang berakal segera bertaubat atas dosa yang telah lalu, dan memikirkan akan bekal mencapai keselamatan di Akhirat. Dia memutuskan angan-angan keduniaan, segera bertaubat, mengingat Allah swt, meninggalkan larangan-larangan-Nya, sabar menahan nafsu dan tidak memperturutkan keininan syahwat. Ingat! NAFSU ADALAH BERHALA. Barangsiapa menuruti nafsu bererti menyembah berhala. Orang yang menyembah Allah swt, dialah yang mampu menahan nafsunya.
Diceritakan bahawa Malik bin Dinar berjalan di pasar Basrah. Dia melihat buah tin hingga tumbuh keinginannya terhadap buah itu. Dia membuka kasutnya dan dia memberikan kepada penjual buah itu, seraya berkata,
"Berilah aku buah itu." dan si penjual melihat sandalnya, seraya berkata,
"Oh ini tidak cukup!"
Kemudian Malik berlalu. Maka dikatakan kepada penjual itu,
"Apakah engkau tidak mengetahui siapakah dia?"
Penjual itu menjawab, "Tidak."
Dikatakan kepadanya,"Dialah Malik bin Dinar."
Dengan segera penjual itu meletakkan bakul di bahu pelayannya seraya berkata,
"Jika dia menerima buah ini daripadamu, maka engkau merdeka!"
Kemudian pelayan itu pergi mengikut Malik bin Dinar lalu berkata padanya,
"Terimalah buah ini daripadaku."
Tetapi Malik menolak.
"Terimalah sebab di sinilah kemerdekaanku." kata pelayan itu. Kemudian Malik menjawab,
"Jika di sini kemerdekaan bagimu, di sini pulalah seksaan bagiku."
Namun pelayan itu tetap juga mendesak-desak. Sehingga Malik bin Dinar berkata,"Aku bersumpah tidak akan menjual agama dengan buah tin dan aku tidak mahu makan buah tin itu sampai hari Kiamat!"
Diceritakan pula bahawa Malik bin Dinar sedang sakit menghadapi mautnya. Dia ingin segelas madu dan susu untuk dimakan dengan roti panas. Pelayan segera menyediakannya. Kemudian Malik mengambil dan memandangnya sejenak seraya berkata,
”Wahai nafsu, engkau telah bersabar selama tiga puluh tahun, padahal umurmu tinggal sesaat lagi.”
Maka dia membuang gelas itu daripada tangannya, dia menahan nafsunya hingga dia meninggal. Demikianlah sifat para anbiya’, aulia’, siddiqin dan zahidin serta orang-orang yang merindukan Allah swt.
Telah berkata Nabi Sulaiman bin Daud as:
”Sesungguhnya mengekang nafsu itu lebih sulit daripada membuka sebuah kota bersendirian.”
Ali bin Abi Talib ra juga berkata:
”Aku dan nafsuku bagaikan gembala dengan  kambingnya. Jika aku menahannya dari satu sisi, dia melompat dari sisi lain. Barangsiapa dapat menjinakkan nafsunya, dia akan dibungkus dengan kafan rahmat dan dikubur dalam bumi karomah. Tetapi barangsiapa yang membunuh hatinya, terbungkuslah dia dalam kafan laknat serta terkubur alam bumi azab!”
Zahya bin Muaz Ar Razi berkata: 
”Perangilah nafsumu dengan taat dan riadah (latihan rohani). Riadah adalah mengurangi tidur, makan mahupun bercakap;menahan kepedihan daripada makhluk. Sedikit tidur akan menyucikan kehendak, sedikit berkata akan terselamat daripada bencana.Dan menahan pedih dapat menghantarkan sampai ke puncak.Bahkan sedikit makan dapat menundukkan syahwat. Sesungguhnya banyak makan dapat mengeraskan hati dan menghilangkan cahayanya. Dan cahaya hikmah adalah lapar. Serta kenyang dapat menjauhkan seseorang daripada Allah swt. 
Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda:
         ”Terangilah hatimu dengan lapar. Perangilah nafsumu dengan lapar dan haus. Serta sentiasalah mengetuk pintu Syurga dengan lapar. Sesungguhnya pahala demikian itu bagaikan pahala pahlawan membela agama Allah swt. Dan sesungguhnya tidak ada amal yang lebih disukai oleh Allah swt daripada lapar dan haus. Tidak akan ke kerajaan langit seseorang yang memenuhi perutnya dan kehilangan lazatnya beribadah.”



Telah berkata Abu Bakar as-Siddiq ra: 
”Aku tidak pernah kenyang semenjak aku masuk Islam agar kutemukan lazatnya beribadah kepada Tuhanku. Dan aku tidak pernah minum puas semenjak masuk Islam kerana rindu berjumpa dengan Tuhanku. Ini kerana jika banyak makan akan sedikit beribadah. Sesungguhnya jika orang banyak makan beratlah badannya, mengantuk dan lemahlah anggota badannya sehingga tidak membuahkan sesuatu. Dia tidur melulu bagaikan bangkai terbuang.”

Demikianlah dalam kitab `Minhajul Abidin’.
Daripada Luqman Al Hakim, dia berkata kepada puteranya: 
”Janganlah engkau banyak tidur dan makan. Barangsiapa memperbanyak keduanya, pada hari Kiamat dia miskin amal soleh.” Ini tersebut dalam kitab ’Maniyyatul Mufti’.
Rasulullah saw telah bersabda:
” Janganlah engkau membunuh hati dengan banyak makan dan tidur. Sesungguhnya hati akan mati bagaikan tanaman jika tergenang air.”
Orang-orang soleh menafsirkan perut ibarat kuali di bawah hati. Jika terisi banyak akan menggenangi hati sehingga menjadi kotor dan hitam. Di samping itu banyak makan dapat mengurangi kecerdasan dalam mencari ilmu.
Diceritakan daripada Zakaria bin Yahya as. Dia melihat Iblis membawa beberapa tali. Kemudian dia bertanya,
”Apa itu?”
Iblis menjawab: “Inilah ‘syahwat’. Dengan ini akan aku akan ikat anak cucu Adam.”
Yahya bertanya lagi, ”Apakah kau pernah mengikatku dengan itu?”
Iblis menjawab, ”Tidak. Hanya pada suatu malam engkau makan sampai kenyang kerananya aku beratkan engkau melakukan solat.”
Kemudian Yahya berkata,
”Sesungguhnya telah kejadian itu aku tidak akan makan sampai kenyang selamanya.”
Iblis juga berkata, ”Sesungguhnya aku tidak akan melepaskan seseorang selamanya.”
Demikianlah orang yang tidak pernah kenyang selama hidupnya kecuali satu malam.Bagaimana orang yang tidak pernah lapar kecuali satu malam lalu mengharapkan lazatnya ibadah?
Diceritakan juga daripada Yahya bin Zakaria as. Pernah satu kali dia kekenyangan makan gandum. Pada malam itu dia tertidur ketika berwirid. Kemudian Allah swt memberi wahyu kepadanya seraya berfirman,
”Apakah engkau menemukan rumah untukmu yang lebih bagus daripada rumah-Ku? Apakah engkau menemukan teman yang lebih baik daripada berteman denganku? Demi kemuliaan dan keagungan-Ku jika engkau melihat syurga Firdaus lalu melihat neraka Jahanam, pastilah engkau akan menangis mengeluarkan nanah sebagai ganti air mata dan engkau akan memakai besi bagi menggantikan kain”.

Sesungguhnya kemudahan akan disertai kesusahan. Itulah janji Tuhan kepada makhluknya yang menjadikan dunia ini berpasang-pasangan.

Kadang-kadang kita merasakan kehidupan ini menyusahkan, membebankan dan acapkali menyesakkan jiwa. Mengapakah terjadinya hal yang sedemikian? Mungkinkah kerana kita tersasar dari matlamat hidup kita?

Sebagai seorang Islam, cuba kita renungkan, apakah matlamat sebenar kita dilahirkan ke dunia ini? Adakah untuk memenuhi keperluan dan kehendak semata-mata? Sebelum itu mari kita lihat sejenak apa itu keperluan dan kehendak dunia ini.

Keperluan kita sebagai seorang Islam adalah beribadah kepada Allah. Adakah beribadah itu hanya tertumpu kepada rukun Islam yang lima sahaja? Tentu sahaja tidak, rukun Iman, fardhu ain, fardhu kifayah mestilah dilengkapi bagi memenuhi keperluan kita hidup di alam maya ini.

Sekarang, kita perhatikan pula kehendak dunia.

Keperluan dunia memenuhi ruang lingkup nafsu kita. Makanan yang enak, pasangan dan anak pinak, harta dunia dan tidak lupa juga kuasa. Bagaimana kita mahu mengharungi kehidupan dunia dengan menyeimbangkan antara keperluan dan kehendak? Kerana faktor ini, selalu sahaja kehendak mengatasi keperluan. Inilah hakikat yang menyesakkan jiwa dan nafas kita.

Baiklah. Mari kita teliti cadangan di bawah ini. Bagaimanakah caranya untuk merungkai kesesakan jiwa kita ini.

Pertama sekali, tentukan matlamat hidup yang sebenar. Sebagai seorang mukmin, AKHIRAT menjadi matlamat jangkamasa panjang kita semua. Keperluan dunia wajiblah dipenuhi bagi mencapai akhirat. Jika begitu, apakah kita mesti mengenepikan dunia? Tidak, ini amat berat dilakukan kerana dunia merupakan jambatan akhirat. lalu, harus bagaimana menghadapai dunia.

Sila ikuti saranan seterusnya.

Langkah kedua merupakan titik tolak bagaimana kita menghadapi alam fana ini. Kita haruslah meleraikan ikatan kita kepada dunia. Bagaimana caranya? Letakkanlah sahabatku, dunia ini di tangan kita bukannya di hati. Contohnya, kita punya harta yang banyak. Jika harta itu di tangan, kita akan mudah memberi. Jika di hati, hati kita akan mewujudkan perasaan tamak, kedekut, dengki malah iri hati jika harta orang lain lebih banyak daripada harta kita.

Lagi perumpamaan yang mudah. Kita telah sedaya upaya menjaga anak dari kecil hingga dewasa. Didikan agama tidak kurang sedikitpun. Didikan dunia pun kita seimbangkan untuk memudahkan urusan dunianya. Bila dewasa, kita telah hilang di hatinya. Betapa perit hati seorang ibu dan seorang bapa. Mengapa hati kita perit dan sakit? Kerana kita telah mengikat hati kita dengn anak. Sesungguhnya, setelah kita berusaha bersungguh-sungguh, hendaklah kita bertawakal kepada Yang Maha Esa. Bergantunglah kamu kepada Allah swt, bukan kepada anak ya, sahabatku.

Wahai sahabat, mampukah kita meletakkan dunia ini di tangan , tetapi bukan di hati. Berhijrahlah, ini suatu percubaan yang amat berat, susah tetapi amatlah menyenangkan hatimu sekiranya kamu, wahai sahabatku dapat melakukannya. Percayalah, bahawa dalam kesusahan ada kesenangan.

Kamu akan redha dengan apa sahaja takdir yang ditentukan. Kamu akan merasakan betapa mudahnya kehidupan ini. Marilah kita renungkan kata-kata di bawah ini dengan penuh penghayatan.

Jika kamu cinta kepada bunga, bunga akan layu. Jika kamu cinta kepada manusia, manusia akan mati. Cintalah kepada Allah swt, Allah swt akan mencintai kamu selama-lamanya. Tidakkah kamu terfikir bahawa dunia ini hanyalah sementara. Di mana tak satu tempat atau apapun yang kamu boleh gantungkan harapan. Sengaja Allah swt menjadikan ini semua sebagai petunjuk, untuk menunjukkan kepada manusia, hanya Dialah tempat kita bergantung harap kerana Dialah yang kekal abadi.